Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan

05 Juni 2009

pamitan

Assalamu'alaikum warohmatulloh wabarokatuh.

Halo kawan-kawanku, bagaimana kabar Anda semua?

Posting kali ini singkat saja. Untuk sementara saya pamit, off dari dunia blog. Bukan apa-apa, saya harus melaksanakan tugas pemeriksaan di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Tugas akan saya mulai insya Allah pada hari Selasa, 9 Juni 2009. Jadi, harap maklum kalau Anda berkunjung ke blog ini, tidak ada penambahan artikel.

Bisa jadi karena saya akan sibuk sekali, sehingga tidak ada waktu untuk update artikel, atau memang tidak ada koneksi internet.

:blush:

Mohon doanya juga dari kawan-kawan semua agar saya dapat menunaikan tugas dengan baik dan bisa kembali dengan selamat.

Nantikan juga catatan perjalanan saya di Mamuju.

Salam sukses,
Wassalamu'alaikum warohmatulloh wabarokatuh

:wave:
Makin lanjutkan makin baik...

19 Mei 2009

wisata ke Pulau Samalona sama saya

Kali ini, kembali saya mengadakan perjalanan. Ya, perjalanan. Bukankah hidup ini sebuah perjalanan? Perjalanan kali ini berbeda dengan perjalanan sebelumnya. Kali ini bukan sekadar keliling kota. Kami (ya, “kami” karena beramai-ramai) keluar Pulau Sulawesi, menuju gugusan pulau kecil di sekitar Pulau Sulawesi. Yah, semacam Kepulauan Seribu bagi Jakarta.

Tujuan kami kali ini ke Pulau Samalona. Pulau Samalona berjarak sekitar 20 menit perjalanan laut menggunakan perahu bermesin tempel. Cukup mahal kami menyewa perahu. Untuk menyewa dua buah perahu saja, kami menghabiskan Rp650.000,00. Mungkin kami kurang bisa menawar. Sebagai informasi, rekan-rekan saya bisa menyewa sekitar 280-300 ribu per perahu. Saran pertama saya, pintar-pintar lah menawar.

Berangkat lah kami berenam belas. Ya, enam belas orang dalam dua perahu, atau delapan kepala per perahu. Perahu tidak bisa diisi lebih dari sepuluh jiwa, karena terlalu berisiko. Perjalanan yang cukup menyenangkan. Hembusan angin laut, kapal patroli polisi perairan, dan ternyata, air laut di sini sama-sama asin. Heran juga saya, di mana-mana air laut rasanya kok sama ya?

Tibalah kami di Pulau Samalona. Pasir putih, biru dan beningnya air laut, rindangnya pepohonan, menyambut kami. Turun dari perahu, kami disambut penjual jasa rumah singgah. Sedikit cerita menarik, penjual jasa yang ibu-ibu sempat marah dengan saya, ya saya sendiri. Masalahnya, waktu ditawari, saya diam saja. Bukan apa-apa, saya tidak paham bahasa si Ibu. Soalnya dia bicara dalam bahasa lokal. Sedangkan saya ngiseng sekede-sekede (hanya tahu sedikit saja) bahasa Makassar. Saran kedua saya, kalau Anda tidak bisa bahasa lokal, gunakanlah logat asli Anda, agar mereka paham, Anda bukan penduduk lokal.













Setelah bernegosiasi, tercapailah kata sepakat kami menyewa rumah singgah Rp200.000,00. Rumah itu kami gunakan untuk meletakkan barang-barang bawaan kami. Tidak menunggu lama, saya segera mencari persewaan alat snorkling. Biaya sewa hanya Rp20.000,00 per sepuasnya. Segera ganti baju, celana, pasang alat snorkling, nyebur. Asyik juga snorkling. Benar-benar menyatu dengan alam. Ikan-ikan kecil hilir mudik, terumbu karang (yang sayangnya) rusak, air jernih tapi asin, sinar matahari cerah membakar kulit. Semakin ke tengah, semakin indah saja, ikan-ikan lebih banyak, terumbu karang mulai indah, lebih dalam. Namun tidak saya teruskan. Sederhana saja, saya tidak ingin kesasar ke Kalimantan.
Acara selanjutnya, berjemur. Memanaskan kulit hitam saya agar lebih hitam, tanpa manis. Bermain pasir, dan (lagi-lagi) asin air laut. Dan, akhirnya berkeliling pulau. Tak disangka tak dinyana, ternyata ini pulau kecil sekali. Hanya seluas 2-3 lapangan sepakbola. Cukuplah waktu 5-10 menit keliling pulau nan indah ini.

Pulau Samalona, dimiliki oleh tujuh orang leluhur. Nama-namanya saya tidak hapal. Sekitar 30-40 KK mendiami pulau ini. Tiada kendaraan bermotor, jalan aspal, dan keramaian. Hanya desir ombak dan angin laut membelai lembut pulau kecil ini.
Selesai berkeliling, mandi. Ternyata, mandi juga dengan air tawar tapi asin alias payau. Sama saja, masih asin juga. Baru sadar ternyata, kulit saya memerah karena terbakar. Saran ketiga saya, pakailah sunblock, bagi Anda yang memedulikan penampilan.

Di pulau ini, hanya ada satu warung makan. Dan, sayangnya lagi, makanan yang dijual hanya mie instan. Kalau Anda ingin makan “normal”, siapkan uang Rp200.000,00 pengganti biaya masak ikan bakar. Terlalu mahal bagi turis lokal seperti kami. Saran keempat saya, bawalah makanan dari Makassar, bagi Anda yang ingin lebih hemat.

Siang sampai sore, sambil menunggu perahu jemputan datang, kami habiskan waktu menikmati hembusan angin di sisi timur pulau ini, sisi yang menghadap Teluk Losari, Makassar. Sekitar pukul 15.00 WITA, perahu penjemput kami datang, dan menyarankan untuk segera pulang, karena angin semakin kencang, dan pasang semakin tinggi. Jika Anda ingin menikmati sunset dan sunrise, saran kelima saya, datanglah pada siang selepas tengah hari, lalu bermalam, dan kembali ke Makassar keesokan harinya.










Perjalanan yang menyenangkan, pengalaman baru, petualangan baru menjelajahi dunia bawah air. Maaf, tidak ada dokumentasi untuk alam bawah air. Kebetulan baterai camdig saya sedang habis saat itu. Hanya sempat mengabadikan lingkungan pantai saja.

Pulau Samalona, Pulau Wallpaper











Ke mana lagi ya, setelah ini?

Makin lanjutkan makin baik...

11 Mei 2009

Sore di Fort Rotterdam

Percayakah kawan, kadang kita nyeletuk ternyata dikabulkan? Seperti saat saya mengatakan, “Nif, aku temenin di Mamuju.” Ternyata, fayakun. Begitu pula kejadian sore itu, saya sempat berpikir, “Oh iya, di Makassar kan ada Fort Rotterdam, tempat pengasingan Pangeran Diponegoro. Kapan ya, bisa ke sana?” Tiba di kos, ketemu si Yonas, “Ayo, ke Rotterdam!” Apakah ini mimpi? Oh, tidakmi. Ini betulan.

Akhirnya, jadi juga saya ke Fort Rotterdam. Sekarang lebih ramai. Sekitar 10 orang. Bareng teman kosan, dan beberapa teman dari tetangga kos. Sama-sama BPK juga sih. (Lagi-lagi, sayang sekali) minus Aji.
Tiba di Fort Rotterdam, kesan pertama, keren! Tidak ditarik bayaran, cuma ngisi buku tamu. Bagus, bagus. Saya senang. Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang dibangun tahun 1545 oleh Kerajaan Gowa Talo. Dulunya sih, dibuat dari tanah. Di benteng ini pula, Pangeran Diponegoro diasingkan hingga akhir hayat beliau.Ramai sekali orang-orang berkunjung. Entah melancong seperti kami, pacaran, berfoto untuk pre-wedding, atau sekadar melihat sunset dari atas benteng. Ya, benteng ini menghadap persis ke laut. Bangunan-bangunan yang megah, dan ruangan-ruangan gelap nan mistis. Tidak sanggup saya bayangkan bagaimana Pangeran Diponegoro menjalani hari-hari terakhir dalam hidupnya di tempat ini. Semoga Allah membalas amal kebaikan beliau dengan surga-Nya. Amien.Sayangnya sore itu, bangunan yang menyimpan dokumen sejarah tidak dibuka. Sayang sekali, padahal banyak yang bisa dipelajari di sini. Tidak hanya sekadar jeprat-jepret sana-sini. Setelah berkeliling, pergilah kami menghambur ke pantai yang berjarak kurang dari 100 meter. Melihat nelayan berangkat melaut, anak-anak kecil berenang, dan berburu gonggong (siput kecil). Ah, damai sekali melihat wajah-wajah penerus negeri ini. Saya doakan kalian bisa melebihi sukses Pak Habibie dan Pak Jusuf Kalla, dek.Tidak seperti saat saya bersama Hanif, kali ini sunset bisa juga kami abadikan dalam kamera digital. Subhanallah. Indah sekali langit sore itu.Semakin lama, semakin saya mencintai kota ini.

“berbagi waktu dengan alam
kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya
hakikat manusia”

Makin lanjutkan makin baik...

losari, sore itu

Hari Ahad, jadi juga saya dan Hanif pergi ke Pantai Losari. Nggak lucu kan, sudah sampai di negeri orang, tidak sempat melihat-lihat? Aji kebetulan tidak ikut. Bukan tidak diajak, tapi memang ga mau ikut. Sesimpel itu alasannya. Berangkat ke Losari, kami naksi (naik taksi). Bukan, bukan kami banyak uang. Di sini, moda transportasi umum belum selengkap Jakarta, kawan. Di kota Makassar, sampai saat ini, baru dua jurusan pete-pete (angkot, bahasa Makassar) yang kami temui, yaitu IKIP dan UNHAS. Yah, walaupun cukup mahal ongkosnya. Tak apalah, sesekali ini.

Back to the story. Tibalah kami di Pantai Losari. Masih gerimis saat itu. Tetap ramai. Pantai Losari, pantai beton di Teluk Losari. Biasa lah, namanya pantai. Isinya orang mancing, nongkrong, ABG pacaran, nggak jauh beda suasananya dengan pantai-pantai lain di republik ini. Sebenarnya, ini pantai, pantai nyang indah. Namun, Anda tahu sendiri sifat buruk orang-orang di republik tercinta kita ini. Bisa membangun, kurang bisa merawat. Sampah di sana-sini, besi pengaman di tepi laut telah berkarat. Bayangkan, betapa tidak lucunya, bila ketika saya nyender di besi berkarat itu, ujug-ujug patah, saya nyemplung ke laut, dikira ikan baronang, bibir saya nyangkut mata kail.
Oh ya, sebenarnya kami tidak hanya berniat mengunjungi Losari saja. Sekalian ketemu teman saya satu kabupaten, sama-sama orang Purworejo. Heri Wagianto namanya, kerja di BPPK. Kebetulan, kosannya dekat pantai ini. Plesiran sekalian silaturahim? Menyenangkan. Kasihan juga dia tak ada teman di kota terbesar di Indonesia Timur ini.

Puas melihat-lihat, kami (saya, Hanif, plus Heri, minus Aji) mencoba makanan khas Makassar. Pisang epe’ namanya. Sampai detik ini, pisang epe’ masih the best food in Makassar, menurut saya. Rasanya paling wajar-tanpa-pengecualian di lidah saya. Sebenarnya, pisang epe’ ini tak jauh beda dengan pisang bakar. Nampaknya pisang epe’ adalah derivasi dari pisang bakar. Atau bisa dikatakan juga sepupu dekat pisang bakar.

Jadi, kalau ada pertanyaan: “Pisang, pisang apa nyang paling stress?” pisang epe’ jawabnya. Kenapa, eh kenapa yang enak-enak itu haram? Oh, bukan, bukan, itu barusan Bang Haji Rhoma Irama. Back to the topic. Mengapa? Karena pisangnya tertekan. Iya, benar, pisangnya T-E-R-T-E-K-A-N. Maksudnya, pisangnya “digencet”. Bayangkan, menggencet pisang, saudara-saudara, bukankah ini pekerjaan yang mulia? Daripad menggencet rakyat kecil, bukankah lebih baik menggencet pisang? Lebih nikmat rasanya.

Bagaimana bisa tahu nikmat rasanya? Sederhana saja. Ada pisang rasa keju, pisang rasa coklat, pisang rasa durian. Tapi, jangan coba-coba cari saja pisang rasa pisang, sulit! Harga, cukup Rp6.000,00 dapat tiga pisang, yang gedenya memang segede pisang. Ya, segede pisang, masa’ mau segede semangka?

Melihat sekeliling, saya sempat berpikir, sepertinya Pantai Losari ini dipersiapkan menjadi lokasi seperti Pantai Kuta di Bali. Terlihat dari banyaknya penjual suvenir dan pertokoan di pantai ini.
Habis makan pisang epe’, kami lanjut jalan-jalan di Jalan Somba Opu, pusat oleh-oleh di Makassar. Belanja-belanji, dapat juga Kacang Disko nan terkenal itu. Makanan favorit di Indonesia Timur, slogan di bungkus kacangnya.
“KACANG DISKO, KACANG REMPAH, PEDAS. PALING DIGEMARI DI INDONESIA TIMUR”
Yah, begitulah promosi kacang disko a.k.a kacang ajep2.

Sayang sekali kami tak sempat mengabadikan sunset. Sudah terlanjur hujan lebat sore itu. Mampir ke kosan si Heri sebentar, sholat Maghrib, dilanjutkan sholat Isya’ di kantor polisi. Sempat ditegur polisi juga, dikira residivis yang nggak betah di luar, karena nggak-punya-ongkos-buat-hidup, ngobrol sana-sini, pulang. Hahaha, sederhana sekali ternyata perjalanan saya. Jangan harapkan lagi saya bercerita dengan baik, kawan.

Makin lanjutkan makin baik...